[#FF2in1] Revolusi di Hati Dina

[#FF2in1] Revolusi di Hati Dina

Dina membuka revolusinya di tahun 2013 lalu:

 MENDAPATKAN BEASISWA DI UNIVERSITAS B

 Dina mendesah pelan. Dia gagal. Dia telah membuat orang tuanya sedih, pikirnya. 

“Dina,” panggil sang mama.

 “Iya, ma?”

 sahut Dina pelan.

 “Mama tahu kamu sedih, tapi kamu cukup perlu tahu, kalau mama senang asalkan kamu bisa selalu tersenyum. Ini malam tahun baru. Masa kamu bersedih terus?”

 Dina terdiam. Ia lalu menyobek kertas revolusinya itu, mengambil kertas baru dan menuliskan:

SELALU TERSENYUM DAN BANGKIT.

 Dina pun tersenyum lalu memeluk sang mama. “Dina akan berusaha lagi, ma!”

 Mamanya pun membuat suatu kepalan tangan, dan Dina membalas kepalan tangan sang mama itu dengan semangat baru di hatinya.

Advertisements
[#FF2in1] Hujan di Tahun Baru

[#FF2in1] Hujan di Tahun Baru

31 Desember 2013. Bogor.

Jam 23.45 WIB

Hujan deras.

Aku jadi kecewa, tadinya aku dalam perjalanan menyusul Cecil untuk ikut mengambil barang perlengkapan tahun baru. Tetapi malah hujan. Aku mendesah pelan. Tapi, tunggu. Itu Cecil! Dia dengan basah kuyup memegang sejumlah makanan ringan untuk kami. Cepat-cepat kuhampiri dan kupayungi dia dengan jaketku. Seadanya.

“Surya! Thanks!” serunya sambil terseyum.

Aku pun diam. Kualihkan mukaku yang merah padam.

Jam 23.55 WIB

Kubulatkan tekad.

“Cecil..,” panggilku sambil memegang jaket.

“Iya?”

Jam 23.58 WIB

Kututup mataku

“Aku suka kamu” deklarku.

Dia tersenyum.

Jam 24.00 WIB

“Aku juga” ujar Cecil sambil tersenyum kecil.

1 Januari 2014. Bogor.

Aku dan Cecil dibawah hujan terseyum seperti orang bodoh dibawah jaket ku yang terkena hujan sambil melihat kembang api.